Jumat

Maafkanlah

Selongsong malam yang kosong,
mendongak  ke atas mencari terang.

Terang malam ditelan cermin bulat basah,
keanehan malam menusuk darah.

Tebal merah dalam bibir,
membekas, lalu menghilang dalam air.

Sebuah suka yang terlambat,
maafkanlah dia yang bangsat.

(Mei, 2013)

Minggu

Sepulang Sekolah

Sepulang sekolah
aku melepas peluh
dalam baju kerah
yang aku kenakan.

Ayah ku datang
dari belakang.
Dan Ayah berkata
yang ada di belakang.

“Anak ku, jangan lepaskan
peluh milik ku.”

(Mei, 2013)

Rabu

Ia

Ia duduk separuh siang
di dalam kolam.

“Hai..”, sapanya
pada siapa  saja.
Orang-orang diam
seperti buah malam.

Ia tengok kanan-kiri
dengan hati-hati.

“Selamat siang...”,  sapanya
pada siapa saja.

Orang-orang sekarang duduk
dan tetap diam mengangguk.

Ia berdiri di bawah kolam
yang panas siang.

“Halo...”, sapanya
pada siapa saja.

Orang-orang masih duduk
dan tetap diam mengangguk.

Ia turun dari kolam
di aspal siang.
“Ahh...”, sesalnya
pada dirinya.

“Selamat siang, Om.”, gadis kecil
menyapanya mungil.

“Ya, ada apa?”, balasnya
Pada gadis kecil merah mukanya.

“Om... tak kasih tahu deh.”, malunya
tak mau lepas dari mukanya.

“Iya...boleh.”, heran kepala
pada mukanya.

“Kalau Om mau jadi nabi
jangan disini.
Udah banyak nabi
yang gila sendiri.”

(April, 2013)

Jumat

Tuan, Aku, & Malam Cumbu

Tuan, aku berbuih.
Tuan, ini perih.
Tuan, keluar darah.
Tuan, lama-lama ada nanah.

Mentari redup
menggagahi ruang itu,
saling balas kecup
tuan dengan diriku.

Jam tengah malam
semua terdiam
kami saling paham,
keluarlah si asam.

Tuan, aku terkapar.
Tuan, anda lapar.
Tuan, ada tempe amis.
Tuan, makan di malam kamis.

Nanar matanya
menusuk pada tempatnya,
tegak bergairah di depan
deras menghujan.

Diriku terhempas
mulaiku kapas lemas,
bunga cumbuku
lembek berbau.

Tuan, anda puas.
Tuan, sudah berjanji.
Tuan, dengan malam ini.
Tuan, bawaku ke papan atas.

(Maret, 2013)

Rabu

Maaf Aku Selalu Salah

Semalam aku hanya memeluk sepi.
Dan kau tetap memeluk merahnya.
Apa aku terlalu dini untuk hal itu?
Dan maaf aku salah, tentang anggrek biru itu,
maaf aku salah, tentang rona malu wajahmu,
dan maaf aku selalu salah,
saat aku mencoba memeluk kesepian itu.

(Maret, 2013)

Sabtu

Dan Waktuku...

Waktu.
Kamu mau aku,
aku yang kuyu
di kertas itu.

Waktu.
Tik-tok, hanya detik saling sapa,
melagu duka, menari sara,
jamban di muka lepaskan haru.

Waktu.
termakan bubur asam pedas,
dengan kuah nanas,
sering buatku bergegas.

dan waktuku....
habis berdiri kaku...
tersedak dengan abu... 
memelukmu  tak haru...

(Maret, 2013)

Mata Pagi

Aku selalu heran
dalam keheranan ku.
Kenapa selalu ada pagi
saat aku menatap mu.

(Maret, 2013)