Selasa

Aku A

Sebut saja aku A.
Tak kurang, tak lebih.
Aku sudah lebih dari hari,
minggu, bulan, tahun ada di Bumi.

Aku roh yang tertinggal di Bumi.
Menetap pada tubuh yang tertinggal
di rumah sakit yang biru
pinggir jalan kala itu.

Setiap hari setelah kala itu,
aku minum dan makan
ala Bumi. Layaknya mereka
makan hasil keringat mereka.

Aku A. Amnesia.
Bila ada yang mengingat aku,
hanya mereka yang meninggalkan
aku di Bumi.

Aku lupa kenapa dan mengapa
aku tertinggal di Bumi.
Satu hal kecil pun
aku tak ingat.

Hingga detik ini
masih berjalan sama
pada jarum
di dinding itu.

Aku masih percaya
kepada meraka yang berkeringat
untuk ku. Dan selalu komat-kamit
dengan Aku Percaya mereka.

Aku masih asing, walau tak asing,
dengan Aku Percaya mereka.
Saban hari aku mendengarnya
walau tak terdengar aneh oleh ku.

Setiap hari ketujuh tiap minggu
mereka pergi ke gedung
yang sampai sekarang
aku tak percaya dalamnya.

Megah.
Riuh.
Aneh.
Tapi aku tak asing.

Setelah mereka pulang,
akan selalu sama,
akan selalu itu,
“Kamu tak ikut lagi?”

“Hmm....”
Selalu jawab ku.
Selalu mereka berpaling,
dan pergi ke ruang makan.

Hari, minggu, bulan, tahun,
aku hadapi dengan sama,
“Hmm....” yang sama,
dan berpaling yang sama mereka.

Aku masih aneh dan asing,
walau tak begitu aneh dan asing.
Bumi. Tempat yang aneh dan asing,
walau tak begitu aneh dan asing.

Dewasa ini aku punya kartu kecil
yang cukup aneh dan asing bagi ku.
Tapi tak mengapa,
agar sama dengan mereka.

Kartu ku banyak huruf
yang aku pelajari sekian tahun ini.
Bahkan juga ada angka
di dalamnya.

Nama: A. (Sementara)
Kota: Yogyakarta. (Sementara)
Lahir: 25 Mei 1993 (Sementara)
Agama: Katholik. (Sementara)

Ah. Sementara.
Benar juga, aku juga,
sementara juga.
Tinggal di Bumi ini.

Tapi sampai kapan,
sesal ku.
“Hmm...”
Sementara juga keluar dari mulut ku.

Saat mereka di ruang makan
tiba-tiba ada tikus
menyambar lauk
mereka.

Aku keluar dari kamar,
melihat mereka kerasukan
entah setan apa
saat tikus itu pergi.

“Wah! Asu!
Tempene digondol
tikus! Aduh gimana
ini Gusti....”

Serempak
duet mereka
memenuhi seluruh
rumah.

Tiba-tiba pula
mata ku pudar.
Sesak memenuhi
dada ku.

Kata-kata mereka
penuh tanda seru.
Menggerogoti seluruh
tubuh ku.

Aku lemas, lunglai
tergeletak. Sadar.
Bukan antara aku
sadar dan tidak sadar.

Ini!
Aku ingat semua.
Kata seruan mereka
menyadarkan ku.

Ah, aku ingat,
persis setiap sudut
setiap cerita
yang tertutupi amnesia ku selama ini.

Aku A.
Bukan Angel.
Bukan Andreas.
Bukan Antonius.

Bukan Ahmad.
Bukan Arya.
Bukan Arjuna.
Bukan Ali.

Aku A.
A adalah huruf pertama
dari nama ku,
yang selama ini aku lupa.

Aku A.
Aku A. Tetap si A
yang berarti Asu.
Aku A. Nama ku Asu.

Entah itu nama atau pujian,
atau umpatan, atau malah doa.
Setelah aku tahu nama ku, tetap saja,
aku hanya bisa “Hmm....”

(Juni, 2016)

Rabu

Nol

Satu. Dua. Tiga. Empat.
Lima. Enam. Tujuh. Delapan.
Sembilan. Sepuluh.
Lima. Delapan.
Satu. Sembilan. Sembilan. Lima.

Dimana Nol?
Sedang tidur pulas
dalam dua kali satu.

Nol.

(Juni, 2016)

Senin

Litani Dilarang Boyo

Boyo, kasihanilah kami.
            Boyo, kasihanilah kami.
Boyo, doakanlah kami.
            Boyo, doakanlah kami.
Boyo, dengarkanlah kami.
            Boyo, dengarkanlah kami.

DILARANG! Berbelok ke kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Menoleh ke kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Berpikir menggunakan otak kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Mencium pacar di pipi kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Melihat wajah Boyo dengan mata kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Mendengarkan ceramah Boyo dengan telinga kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Makan pakai tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Bersalaman dengan tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Cebok dengan tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memberi tabik dengan tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memegang tasbih dengan tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Membawa kitab suci dengan tangan kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki tempat ibadah dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki tempat Boyo dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki jalan umum dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki warung makan dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki sekolah dan kampus dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.
DILARANG! Memasuki rumah sakit dengan kaki kiri.
            Kasihanilah kami.

Boyo Anak Negara, yang menghapus dosa-dosa mereka.
            Kasihanilah kami, ya Boyo.
Boyo Anak Negara, yang menghapus dosa-dosa mereka.
            Doakanlah kami, ya Boyo.
Boyo Anak Negara, yang menghapus dosa-dosa mereka.
            Dengarkanlah kami, ya Boyo.
Boyo yang lembut dan murah hati.
Jangan jadikan hati kami seperti hati mu.

Amin.

(Mei, 2016)

Sabtu

Jenazah

Menjelang pagi di hari minggu,
dan aku jenazah yang masih memilik roh.

Cuma ingin kembali pada waktu itu, 
dan khusyuk dengan isi dalam roh.

Mata jenazah ku sudah lelah,
melihat peraduan malam.

Mata roh ku sudah jengah,
dengan isi yang lama tenggelam.

Badan jenazah ku,
roh dalam jenazah ku.

Terus mencari isi dalam roh,
yang melekat pada jenazah ku.

(Mei, 2016)  

Selasa

Sendu

Saat aku
sedang sendu.
Entah sendu
lama atau baru.

Sendu itu
masih sama
seperti waktu itu,
saat kau tak ada disana.

Sendu waktu
itu,
akan terus datang
di akhir sabtu.

Sendu
terus mengadu
kepadaku, dan
itu selalu tentang kamu.

Akhir sabtu lalu,
aku tak di buru
oleh sendu. Mungkin saja
dia sedang sakit kepala.

Lalu, aku
luangkan waktu
untuk secangkir kopi,
agar tak selalu diburu sendu.

Secangkir kopi
dari ujung gang ini.
Sungguh mujarab sekali
membuang hati.

Terbuai aku
dalam arabika.  
Sececap asam
melupa sendu.

Aku pulang,
dan datang lagi
di ujung gang
demi secangkir kopi.

Aku selalu begitu
disetiap akhir sabtu.
Sengaja, agar tak di buru sendu,
dan yang penting, melupa kamu.

(Mei, 2016)

Senin

Meminta

Kepada waktu,
aku meminta lampau.

Kepada waktu,
aku meminta sekarang.

Kepada waktu,
aku meminta besok.

Kepada waktu,
pulangkan aku di waktu rindu.

(Mei, 2016)

Minggu

Untuk Anda

Untuk anda
yang masih terjaga.

Di temani rokok dan kopi
di malam menjelang pagi.

Aku menitipkan bangun ku
di ampas dan lathu mimpi mu.

Sehingga ku lelap
disetiap jaga mu.

(Mei, 2016)